Halo, teman-teman ! Bagaimana kabar kalian ? Semoga sehat selalu, yaa :D
Masih seputar rangkaian upacara Pelebon kakek saya, Tucak Mis, kali ini saya ingin menceritakan salah satu hal yang menarik dalam upacara ini. Yaps, sesuai judulnya, Baris Katekok Jago. Emangnya ini tarian Baris apa sih ? Kok tumben lihat Baris seperti ini ? Yuk scroll kebawah untuk mengetahui lebih lanjut ! :D
Baris Katekok Jago juga biasanya disebut Baris Poleng karena kostum yang dipakai dominan hitam putih dan membawa tombak yang juga dicat hitam putih. Baris Katekok Jago mempunyai fungsi ganda, selain sebagai sarana upacara Dewa Yadnya, juga sering dipentaskan untuk upacara Pitra Yadnya. Tarian tersebut bisa diupah oleh perorangan atau kelompok terutama untuk upacara yang tergolong utama, baik untuk Dewa Yadnya maupun Pitra Yadnya.
a. Tari Baris Katekok Jago saat upacara Pitra Yadnya
Tari Baris yang dipentaskan saat upacara Pitra Yadnya seperti ngaben atau pelebon, berfungsi untuk mengawal sang arwah saat perjalanan dari rumah duka ke tempat ngaben atau pelebon. Tari Baris sakral ini akan berjalan di depan iring-iringan jenazah. Hal ini bertujuan untuk mengawal sang arwah agar tidak diganggu oleh kekuatan-kekuatan negatif. Selama di lokasi ngaben, Tari Baris ini akan mengawal jenazah atau layon saat diturunkan dari bade menuju ke tempat pembakaran atau lembu. Kemudian para penari akan menari menghadap jenazah atau lembu sebelum dibakar. Ini sebagai perlambang mengantarkan roh kembali ke asalnya.
b. Sejarah Tari Baris Katekok Jago
Berdasarkan buku The Baris Dancer dari I Made Bandem terbitan Serba Guna Press (1976), tari Baris ini muncul pada abad XI dalam upacara pembakaran jenazah di zaman Raja Hayam Wuruk dan berkembang hingga sekarang. Tarian Baris terdiri dari sekitar 30 jenis, masing-masing memiliki tempat dan pakaian yang berbeda penggunaannya. Contohnya tari Baris Katekok Jago hanya ditarikan saat mengiringi pembakaran jenazah pada upacara Pelebon (Ngaben). Tarian ini ditarikan oleh 20 penari laki-laki yang sudah melakoni penyucian terlebih dahulu. Namun, dari tahun ke tahun, tidak semua upacara Pelebon menampilkan tarian Baris. Alasannya lebih pada kemampuan materi keluarga yang menggelar upacara itu karena tarian ini hanya bersifat sebagai pelengkap. Maklum, meski para penari ini bersifat ngayah (mengabdi tanpa pamrih), mereka juga harus menghidupi keluarga sehingga tetap saja ada imbalannya. Pedanda Ida Pedanda Sebali Tianyar sebagai salah satu ulama agama Hindu mengungkapkan, tarian ini memang sarat pesan, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Pesan-pesan itu tersirat dalam simbol-simbol. Penutup kepala yang mengerucut itu, misalnya, menandakan kita semua menuju ke atas, yakni Tuhan, Sang Hyang Widhi.
c. Bentuk Pementasan Tari Baris Katekok Jago
Tari Baris akan dipentaskan terlebih dahulu sebelum prosesi pembakaran jenazah. Gerakan tariannya sangat sederhana. Setiap perpindahan gending, para penari akan berteriak “Kuuuk.“ Selain itu ada gerakan seperti sedang terbang (Ngindang), yang dilakukan oleh pemimpin barisan. Kedua tangannya memegang kain seperti sedang terbang dan mendekati para penari lainnya dengan gerakan yang sama, namun dilakukan seperti jongkok. Lalu di akhir pementasan ditutup dengan gerakan perang, yang dilambangkan sebagai perang antara kebaikan dan kejahatan. Tentu saja perang ini akan dimenangkan oleh kebaikan.
Di saat tarian telah selesai, para penari pun akan mempersembahkan bunga sepatu atau bunga pucuk berwarna merah yang awalnya mereka gunakan di kepala saat menari ke lembu tempat jenazah dibakar.
Sumber :
- Ariani Kusuma, Anak Agung Ayu. 2011. "Tari Baris Katekok Jago Pengawal Arwah Ke Sorga", https://isi-dps.ac.id/berita/tari-baris-katekok-jago-pengawal-arwah-ke-sorga/, diakses 26 Maret 2022 pukul 11.55
- Budiadnyana, Ari. 2022. "Sejarah Tari Baris Katekok Jago, Tidak Dipentaskan Setiap Hari di Bali", https://bali.idntimes.com/science/discovery/idn-times-hyperlocal/sejarah-tari-baris-katekok-jago-c1c2/5, diakses 26 Maret 2022 pukul 11.57
- Sulistyowati, Ayu. 2011. "Baris Katekok Jago, Sang Pengingat yang Hidup", https://nasional.kompas.com/read/2011/02/25/05505316/twitter.com?page=all, diakses 26 Maret 2022 pukul 11.59


Komentar
Posting Komentar